Ihsan

Ihsan

Tiga tingkatan dalam syariat Islam, yaitu iman, Islam, dan ihsan seperti sabda Rasulullah SAW: “Hendaklah engkah beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Kalaupun engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu”. (H.R. Muslim No. 8) Secara etimologi, kata ihsan berasal dari kata kerja (fi’il) Hasuna-Yahsunu-Hasanan yang berarti baik. Kemudian, di depannya ditambah hamzah menjadi Ahsana-Yuhsina-Ihsanan yang artinya, memperbaiki atau berbuat baik. Maka, pengertian ihsan ialah beribadah dengan ikhlas, baik yang berupa ibadah-ibadah tertentu seperti salat dan puasa, juga kegiatan sosial. Perihal ihsan juga disampaikan melalui firman Allah Swt: “Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil, “Janganlah kamu menyembah selain Allah Swt. dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin. Dan bertuturkatalah yang baik kepada manusia, laksanakanlah salat, dan tunaikanlah zakat.” Tetapi Kemudian kamu berpaling (mengingkari), kecuali sebagian kecil dari kamu dan kamu (masih menjadi) pembangkang.” (Q.S Al Baqarah: 83) Ada beberapa perilaku ihsan yang diungkapkan dalam ayat tersebut. Pertama, Bani Israil yang berjanji tidak akan menyembah sesuatu selain Allah SWT, tentu janji itu harus mereka penuhi dengan sikap yang mantap. Kedua, perintah berbuat baik kepada orang tua, kerabat, dan orang lain yang membutuhkan seperti yatim dan fakir miskin. Allah SWT juga menyampaikan perintah melaksanakan salat dan menunaikan zakat. Ketiga, memperlihatkan bahwa Bani Israil ingkar dan tidak patuh terhadap perintah Allah SWT. Ihsan adalah akhlak, hasil dari ibadah serta muamalah. Seorang Muslim hendaknya mencapai tingkat ihsan apabila ia telah mengerjakan ibadah dengan sebaik-baiknya. Contoh perbuatan ihsan, di antaranya menunaikan salat lima waktu, membayar zakat, bersikap baik kepada orang tua (birrul walidain), sabar dalam menghadapi seseorang atau hal yang menggangunya, dan beramal.

Baca selengkapnya di artikel "Perilaku Ihsan dalam Islam: Pengertian, Hikmah dan Manfaatnya", https://tirto.id/gbgk
Tiga tingkatan dalam syariat Islam, yaitu iman, Islam, dan ihsan seperti sabda Rasulullah SAW: “Hendaklah engkah beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Kalaupun engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu”. (H.R. Muslim No. 8) Secara etimologi, kata ihsan berasal dari kata kerja (fi’il) Hasuna-Yahsunu-Hasanan yang berarti baik. Kemudian, di depannya ditambah hamzah menjadi Ahsana-Yuhsina-Ihsanan yang artinya, memperbaiki atau berbuat baik. Maka, pengertian ihsan ialah beribadah dengan ikhlas, baik yang berupa ibadah-ibadah tertentu seperti salat dan puasa, juga kegiatan sosial. Perihal ihsan juga disampaikan melalui firman Allah Swt: “Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil, “Janganlah kamu menyembah selain Allah Swt. dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin. Dan bertuturkatalah yang baik kepada manusia, laksanakanlah salat, dan tunaikanlah zakat.” Tetapi Kemudian kamu berpaling (mengingkari), kecuali sebagian kecil dari kamu dan kamu (masih menjadi) pembangkang.” (Q.S Al Baqarah: 83) Ada beberapa perilaku ihsan yang diungkapkan dalam ayat tersebut. Pertama, Bani Israil yang berjanji tidak akan menyembah sesuatu selain Allah SWT, tentu janji itu harus mereka penuhi dengan sikap yang mantap. Kedua, perintah berbuat baik kepada orang tua, kerabat, dan orang lain yang membutuhkan seperti yatim dan fakir miskin. Allah SWT juga menyampaikan perintah melaksanakan salat dan menunaikan zakat. Ketiga, memperlihatkan bahwa Bani Israil ingkar dan tidak patuh terhadap perintah Allah SWT. Ihsan adalah akhlak, hasil dari ibadah serta muamalah. Seorang Muslim hendaknya mencapai tingkat ihsan apabila ia telah mengerjakan ibadah dengan sebaik-baiknya. Contoh perbuatan ihsan, di antaranya menunaikan salat lima waktu, membayar zakat, bersikap baik kepada orang tua (birrul walidain), sabar dalam menghadapi seseorang atau hal yang menggangunya, dan beramal.

Baca selengkapnya di artikel "Perilaku Ihsan dalam Islam: Pengertian, Hikmah dan Manfaatnya", https://tirto.id/gbgk
Secara bahasa ihsan berarti berbuat baik. Ihsan adalah kebalikan dari Isa'ah yang berarti berbuat buruk. Sedangkan pengertian ihsan secara istilah itu terdiri dari dua jenis :
  • Ihsan dalam Ibadah kepada Allah
  • Ihsan Kepada Sesama Makhluk
Ihsan dalam ibadah kepada Allah adalah seorang hamba yang beribadah kepada Allah seakan-akan ia melihat Allah, apabila ia tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Allah melihatnya.

Baca Juga : Hadits Tentang Islam, Iman, dan Ihsan

Ihsan kepada sesama makhluk adalah mendermakan dengan segala jenis kebaikan pada siapapun makhluk (baik manusia maupun hewan) sesuai hak dan kedudukannya.

Al-Jurjani mengatakan :

الحسن هو كون الشيء ملائما للطبع كالفرح وكون الشيء صفة الكمال كالعلم وكون الشيء متعلق بالمدح كالعبادات وهو ما يكون متعلق المدح في العاجل والثواب في الآجل

Kebaikan adalah adanya sesuatu yang selaras dengan tabiat/perangai, seperti rasa senang, adanya sifat yang sempurna, seperti ilmu, adanya sesuatu yang berkaitan dengan hal terpuji, seperti ibadah, dan apapun yang berkaitan dengan hal terpuji baik di dunia maupun pahala di akhirat

B. Dalil-dalil Tentang Ihsan dalam Al-Quran

1. Ihsan adalah Perintah Allah

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.
[QS. An-Nahl : 90]

Dalam tafsir As-Sa’di disebutkan : Ihsan (berbuat kebajikan) adalah keutamaan yang dianjurkan seperti memberikan manfaat kepada manusia dengan harta, badan, ilmu dan segala sesuatu yang bermanfaat lainnya. Hingga berbuat baik pada hewan ternak pun juga termasuk ihsan.

2. Berbuat Baiklah Kepada Setiap Orang

وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَ بَنِي إِسْرَائِيلَ لَا تَعْبُدُونَ إِلَّا اللَّهَ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ ثُمَّ تَوَلَّيْتُمْ إِلَّا قَلِيلًا مِّنكُمْ وَأَنتُم مُّعْرِضُونَ

Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat kebaikanlah kepada ibu bapa, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling.
[QS. Al-Baqarah : 83]

As-Sa’di menafsirkan : Yakni berbaktilah kepada kedua orang tua. Perintah ini bersifat kebaikan secara umum, baik itu dengan ucapan maupun perbuatan. Termasuk juga larangan berbuat buruk kepada kedua orang tua, atau tidak berbuat baik mesikupun tidak berbuat buruk. Karena, jika berbuat baik adalah suatu kewajiban, maka melakukan kebalikannya adalah sebuah larangan.

Kebalikan dari berbuat baik pada kedua orang tua itu ada dua (yaitu) :
  • 1. Berbuat buruk, yang mana ini merupakan kejahatan yang paling besar
  • 2. Tidak berbuat baik, tidak juga berbuat buruk, dan ini diharamkan, akan tetapi tidak sama dengan yang pertama
Demikian pula berbuat baik kepada kerabat dengan bersilaturahmi, berbuat baik pada anak-anak yatim, dan juga orang miskin sama wajib hukumnya. Adapun rincian dalam berbuat baik ini tidak terbatas pada bilangan, akan tetapi sesuai dengan ketetapan.

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar