Pakeman Basa
Hartina pakeman basa nyaeta ungkara anu kekecapan jeung hartina geus matok turta teu bisa dirobah deui. Atau susunan kata yang kata-kata dan artinya sudah paten dan tidak bisa diubah lagi.
Yang termasuk pakeman basa yaitu babasan, paribasa, pamali, kila-kila, cacandraan dan uga.
Babasan dan paribasa merupakan karya para karuhun (leluhur/ nenek
moyang) dan pujangga Sunda yang mengandung nilai, aktual, dan selalu
relevan dengan perubahan zaman.
1. Babasan
Babasan atau ungkapan nyaeta ungkara anu pararondok mangrupa kecap kantetan anu ngagambarkeun sifat jelema. Artinya susunan kata yang pendek, berupa kata majemuk, biasanya hanya dua kata yang isinya menggambarkan sifat manusia.
Kecap kantetan artinya kata majemuk yang terdiri dari dua kata atau lebih. Kalimah kantetan yaitu kalimat majemuk yang terdiri atas dua kalimat atau lebih. Ngantet hartina kata atau kalimat majemuk yang nyambung.
2. Paribasa
Paribasa atau peribahasa hartina ungkara anu leuwih panjang batan babasan. Paribasa mangrupa kalimah, eusina jero ngandung pepeling jeung falsafah hirup. Artinya ungkara paribasa lebih panjang dari babasan, berupa kalimat, mengandung makna yang dalam biasanya berisi pepatah/nasihat dan filsafat hidup.
3. Pamali
Kata pamali sering diartikan larangan karuhun atau orangtua agar tidak melakukan suatu perbuatan karena akan ada akibatnya.
Jika dilihat sepintas, kapamalian seperti tidak masuk akal tetapi jika ditelusuri lagi sesuai dengan kearifan lokal karena mengandung etika dan bisa ditarsirkan secara logis.
4. Kila-Kila
Kila-kila adalah totonden (tanda-tanda) alam terhadap apa-apa yang akan terjadi. Orang tua Sunda jaman dulu kehidupannya sangat dekat dengan alam.
5. Cacandran
Cacandran adalah cerita karuhun yang menggambarkan negara atau kejadian di zaman yang akan datang.
6. Uga
Uga adalah ramalan. Ramalan bukan hanya milik orang Sunda, tetapi di suku lain juga ada. Hanya istilahnya saja yang berbeda.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar